Nama : Gilang Anugrah Pradana
Kelas : AB 40-05
NIM : 1501164404
Sejak munculnya praktik e-commerce, model
bisnis menjadi salah satu konsep yang paling menonjoldi antara konsep-konsep
manajemen yang lain. Hadirnya e-commerce membuat para praktisi bisnis
mengubah total model bisnis lama menjadi model bisnis baru yang lebih sesuai.
Penyebab utama kepopuleran model bisnis adalah karena ditengarai banyak
organisasi yang tumbuh pesat karena kemampuannya menciptakan model bisnis yang
tepat.
Konsep model bisnis yang dikembangkan oleh Alexander
Osterwalder dan Yves Pigneur ini, berhasil mengubah konsep model bisnis yang
rumit menjadi sederhana. Dengan pendekatan kanvas, model bisnis ditampilkan
dalam satu lembar kanvas, berisi peta sembilan elemen (kotak). Karena
kesederhanaannya, metode kanvas dapat mendorong sebanyak mungkin karyawan
terlibat dalam pengembangan model bisnis organisasinya.
Para akademisi menjelaskan pengertian model bisnis
dalam tiga kelompok. Pertama adalah model bisnis sebagai metode (cara), model
bisnis dilihat dari aspek komponen-komponennya, dan model bisnis sebagai
strategi bisnis.
Elemen dalam Business Model Canvas
mencakup Customer Segment, Value Proposition, Channel, Customer
Relationship, Revenue Stream, Key Resourcess, Key Activities, Key Partnership, dan
Cost Structure. Untuk menyusun modelbisnis menggunakan pendekatan ini
dimulai dari Customer Segment, diikuti dengan Value Proposition,
Channel, Customer Relationship, Revenue Streams, Key Resources, Key Activities,
Key Partners, dan Cost Structure.
Untuk mengembangkan BMC, organisasi
dapat mulai dari memotret kondisi saat ini, diikuti dengan analisis SWOT. Hasil
analisis SWOT dapat digunakan untuk merancang model bisnis perbaikan dan
prototipe model-model bisnis masa depan.
Elemen pertama dari kanvas model
bisnis, yaitu Customer Segment. Dalam menjalankan roda bisnisnya,
pertama-tama organisasi harus menetapkan siapa yang harus dilayani. Organisasi
dapat menetapkan untuk melayani satu atau lebih segmen. Penetapan segmen ini
akan menentukan komponen-komponen lain dalam model bisnis. Buku ini
mencontohkan dua stasiun televisi yangmelayani segmen audiens berbeda,
memberikan proposisi nilai yang berbeda.
Elemen kedua dari BMC, yaitu Value
Proposition. Value Proposition adalah manfaat yang ditawarkan
organisasi kepada segmen pasar yang dilayani. Tentu saja, value proposition
akan menentukan segmen pelanggan yang dipilih atau sebaliknya. Value
proposition juga akan mempengaruhi komponen lain sepertiChanneldan Customer
Relationship.
Elemen ketiga dalam BMC, yaitu Channels.Channels
merupakan sarana bagi organisasi untuk menyampaikan Value Proposition kepada
Customer Segment yang dilayani. Channel berfungsi dalam beberapa tahapan mulai
dari kesadaran pelanggan sampai ke pelayanan purna jual. Dua elemen lain yang
harus diperhitungkan secara cermat dalam membuat model Channel adalah Value
Proposition dan Customer Segment.
Elemen keempat BMC yaitu Revenue
Stream. Revenue Stream merupakan komponen yang dianggap paling
vital. Umumnya organisasi memperoleh pendapatan dari pelanggan. Meskipun
demikian banyak organisasi bisa membuka aliran masuk pendapatan dari kantong bukan
pelanggan langsung.
Elemen kelima dari BMC yaitu Customer Relationship, yaitu cara
organisasi menjalin ikatan dengan pelanggannya. Menjaga Buku ini menyajikan
sebuah contoh perusahaan infrastruktur, jasa tranportasi darat, dan jasa hotel
untuk menunjukkan bahwa model hubungan dengan pelanggan perlu didesain secara
kreatif.
Elemen keenam dari BMC, yaitu Key
Activities. Key Activities adalah kegiatan utama organisasi untuk dapat
menciptakan Proposisi Nilai.
Elemen ketujuh dari BMC, yaitu Key
Resources. Key Resources adalah
sumber daya milik organisasi yang digunakan untuk mewujudkan proposisi nilai.
Sumber daya umumnya berwujud manusia, teknologi, peralatan, channel
maupun brand.
Elemen kedelapan yaitu Key
Partnership. Key Partnership merupakan sumber daya yang diperlukan oleh
organisasi untuk mewujudkan proposisi nilai, tetapi tidak dimiliki oleh
organisasi tersebut. Pemanfaatan Key Partnership oleh perusahaan dapat
berbentuk outsourcing, joint venture, joint operation, atau aliansi
strategis.
Cost Structure, yang merupakan
elemen ke-9 dari BMC. Cost Structure adalah komposisi biaya untuk
mengoperasikan organisasi mewujudkan proposisi nilai yang diberikan kepada
pelanggan. Struktur biaya yang efisien, menjadi kuncibesarnya laba yang
diperoleh organisasi.
Pada kesempatan kali ini saya akan
membahas studi kasus business model canvas dari perusahaan JCO
1. Customer segment
Beberapa segmen yang dituju oleh JCO dalam hal pemasarannya
yaitu sebagai berikut
·
Masyarakat
menengah ke atas
·
Kalangan
remaja hingga dewasa
·
Pecinta
makanan manis
·
Orang-orang
yang hobi nongkrong (hang out)
2. Value proposition
Value proposition yang dimiliki oleh JCO yaitu sebagai
berikut
·
JCO
delivery
·
Harga
yang relatif lebih murah dibanding pesaing yang sejenis
3. Channels
Beberapa channels yang dimiliki oleh JCO yaitu sebagai
berikut
·
Kontak
pengaduan
·
Iklan
4. Cutomer relationship
Cara perusahaan JCO menjalin hubungannya dengan pelanggan
setianya yaitu sebagai berikut
·
Penyediaan
wifi di kiosnya
·
JCO
delivery
·
JCO
run (sebuah aktivitas olahraga yang diselenggarakan oleh JCO dengan tujuan
mendekatkan dirinya kepada customer)
5. Key resources
Sumber daya yang dimiliki oleh JCO dalam memertahankan
usahanya yaitu sebagai berikut
·
SDM
·
Teknologi
6. Key activities
Kegiatan utama JCO dalam menjalankan usahanya yaitu sebagai
berikut
·
Survey
pelanggan
·
Pengembangan
SDM
·
Produksi
·
Pemasaran
7. Key partnership
Rekan usaha yang dimiliki oleh JCO diluar dari perusahaannya
tersebut yaitu sebagai berikut
·
GO-JEK
·
Agensi
iklan
·
Bank
·
Mall
8. Revenue streams
Sumber pendapatan yang diterima oleh JCO yaitu sebagai
berikut
·
Penjualan
produk
·
Penjualan
merchandise
9. Cost structure
Biaya pengoperasian yang diperlukan oleh JCO yaitu sebagai
berikut
(Fixed cost)
·
Gaji
karyawan
·
Biya/sewa
gedung
(Variable cost)
·
Pembelian
bahan-bahan
·
Biaya
service